Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2024

The Architecture of Love. "setiap gedung punya cerita, setiap manusia punya trauma"

The Architecture of Love (TAOL) adalah film yang berkisah berdasarkan novel karya Ika Natassa yang berjudul sama. Berkisah tentang Raia seorang penulis, yang lari ke New York untuk memulai tulisannya yang sudah lama mandeg. Dia kemudian bertemu River seorang arsitek yang tinggal di New York.

Mereka sepakat untuk mengelilingi New York bersama, melihat gedung-gedung di kota tersebut dan membahas sejarahnya. Semakin sering dan semakin dalam mereka, ternyata keduanya mempunyai trauma yang membuat mereka "kabur" dari kehidupan sebelumnya.


Film yang bertema drama romance ini sangat apik digarap oleh Teddy Soeriaatmadja sebagai sutradara dan Alim Audio sebagai penulis skenario.

Untuk ukuran film Indonesia, film ini berjalan lambat (walaupun tidak selambat film eropa)...pada awalnya saya khawatir akan kebosanan penonton karena alurnya yang lambat ini, namun pemilihan para aktor untuk memerankan karakter-karakter di dalam film ini sangat tepat dan menghilangkan kekhawatiran saya.

Nicholas Saputra (River Yusuf), Raia (Putri Marino), Jerome Kurnia (Aga Yusuf), Jihane Almira (Erin), bahkan sampai supporting role seperti Mamanya River (Lidya Kandou) merupakan komposisi yang pas untuk film ini. 

Kredit spesial saya berikan kepada Putri Marino dan Nicholas Saputra, dimana bisa memainkan sorotan mata dan mimik mukanya di setiap scene dengan berbagai lawan main. Emosi yang ditimbulkan berbeda-beda ketika keduanya harus menunjukan satu momen bahagia dan beberapa saat muncul kesedihan di scene-scene berikutnya.


Jika ada ruang kritik untuk film ini mungkin tertuju pada bagian akhir dari film ini, dimana film ini dibangun dengan kesan mature dan romantic tipis-tipis, namun ditutup dengan ending seperti film drama romantis remaja pada umumnya.

Memorable scene dari film ini adalah ketika River mendapati kado ultah kedua dari istri yang merupakan kejutan yang sangat spesial, dan membuat River mengalami traumatik yang sangat mendalam.

TAOL masih main di bioskop, yuk saksikan gimana caranya menyembuhkan traumatik dalam hidup... film yang layak ditonton 2-3 kali untuk dapat merasakan apa itu artinya cinta.

Sabtu, 11 Mei 2024

Ancika: Dia Yang Bersamaku 1995

"Suatu hari, saya bertemu tengan Milea Adnan Husein. 

Saya sama sekali tidak cemburu, meskipun Lea wanita yang tak akan bisa saya tandingi, bahkan di masa terbaik saya.

Milea memang punya masa lalu..tapi saya, punya Dilan"

Ancika, sebuah saga dari film Dilan.. yang kali ini tidak ada keterlibatan Pidi Baiq dan Fajar Bustomi dari sisi penyutradaraan, namun oleh Benni Setiawan. 

Terspirasi dari novel karya Pidi Baiq dengan judul yang sama, film ini bercerita kehidupan Dilan setelah SMA dan tentunya sudan tidak berhubungan dengan Milea. 

Ancika muncul di hadapan Dilan ketika dia sudah berstatus mahasiswa, Dilan sudah berubah, tidak lagi ikut geng motor, namun masih disegani oleh teman-teman dan kelompoknya.

Ancika adalah gadis SMA yang mempunyai kepribadian lebih galak, susah didekati, namun bukan berarti sulit jatuh cinta. Dengan karisma dan pengalaman Dilan dalam mengambil hati wanita, adalah hal mudah baginya mengambil hati Cika.


Ancika merupakan cinta terakhir dari Dilan, di film ini menceritakan hal tersebut... 

Memorable scene film ini adalah ketika dimana Milea bertemu dengan Dilan dan Ancika, scene itu dinarasikan dengan monolog Ancika seperti di atas tulisan ini.

Bagi saya dan mungkin penonton lain, sangat sulit jika tidak membandingkan antara ilm Ancika dengan Dilan. Selain pemeran utamanya yang sangat ikonik, gaya penceritaan pun Ancika seolah menduplikasi gaya film Dilan sebelumnya.


Bahkan adanya Mathias Muchus pun tidak membantu, namun ada satu orang yang membuat film ini ada nyawa dan nyambung dengan film sebelumnya....yaitu hadirnya sosok Bunda yang sama diperankan oleh Ira Wibowo. 

Dialog yang dilantunkan Bunda berhasil menguak memori kita terhadap film Dilan terdahulu, kata-kata yang keluar dari mulut Bunda menjadi nyawa dari seluruh film Ancika...

Memproduksi dan merilis sempalan film besar yang jaraknya masih berdekatan adalah pertaruhan, untung saja Ancika berhasil menembus angla 1 juta lewat penonton bioskop. Pesona Zee JKT48 dan Arbani Yazis tidak membuat film ini menjadi perbincangan hangat di setelah menonton film ini.

Tapi film ini gak jelek-jelek amat kok, hanya saja karena film awalnya sangatlah besar, suka gak suka akan jadi bahan perbandingan. Jika sekedar ingin menonton, film ini sudah tayang di Netflix.

trailer Ancika: Dia Yang Bersamaku 1995



A Fall Guy adalah paket komplit jika kamu ingin menonton pop-corn movie yang sangat menghibur dan membuat tertawa. aksi ada, romantisme ada, komedi pun ada... 

semua digarap secara satir oleh sang sutradara David Leitch, seorang aktor, stunt performer, dan menyutradarai beberapa film action seperti John Wick, Dead Pool, Fast Furious, dan Bullet Train.

Film ini dibintangi oleh Emily Blunt, Ryan Gosling, dan Aaron Taylor-Johnson..

Bercerita tentang Colt Seavers (Gosling), seorang stuntman yang masa kejayaannya sudah lewat, akhirnya kembali ke dunia film, yang secara kebetulan disutradarai oleh mantan kekasihnya Jody (Blunt). 

                                     

Di tengah syuting yang sedang berjalan, aktor utama menghilang, Colt diberi tugas oleh sang produser untuk mencari keberadaan sang aktor, dan ternyata malah menjerumuskannya ke arah kriminal.

David Leitch sebagai mantan stuntman memang mengeksploitasi habis keahliannya di film ini, namun pintarnya adalah menurut saya, dia berhasil memasukan unsur rom-com, sehingga adegan berbahaya yang ditunjukan seolah-olah tidak terlihat bahaya sama sekali.

                                  

Blunt dengan Glosing cukup padu dałam menghidupi romantisme dengan dialog-dialog dewasa tanpa mengumbar kata cinta.

Cibiran-cibiran halus pun membuat kita penonton tertawa, salah satunya adegan dimana Colt menangis ketika mendengar lagu Taylor Swift di mobil mengingat masa indah bersama Jody. Atau kita pun seperti diajak bernyanyi ketika Jody berkaraoke menyanyikan lagu Alanis Morissette.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk menonton bersama pasanganmu, karena meonton ini seperti fresh di tengah lesunya Hollywood dalam memproduksi Box Office dan gempuran Korea Wave. Dialog-dialog segar, aksi yang cukup menasik, serta bumbu romantisme Colt dengan Jody yang berhasil dihidupkan oleh kedua aktor papan atas.

Memorable Scene adalah ketika Colt dipaksa berulang kali oleh Jody adegan terlempar ke batu besar dan terbakar hidup-hidup. It's was Fun dan lucu abissss

Trailer The Fall Guy (2024)

Jumat, 03 Januari 2020

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)

Saya sungguh takjub dengan film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), di hari pertama penayangannya hampir di semua bioskop terisi penuh, dan sudah mencatat diatas 100ribu lebih penonton.

Saya pun bertanya-tanya, apa yang membuat orang berbondong-bondong menonton film ini, apakah karena para pemerannya, atau apa karena pemasarannya yang keren?

Selidik punya selidik, selain konten digital marketingnya yang keren, orang banyak ingin menonton karena kesuksesan buku yang judulnya sama dengan filmnya. Bukunya sendiri berisi penggalan kisah-kisah dan quotes-quotes sederhana yang mengena di hati... Oke2, let's focus ke filmnya yaaaa.

NKCTHI dibintangi oleh Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar, Chicco Jerikho, Oka Antara, Niken Anjani, Agla Artalidia, Umay Shahab, Muhammad Adhiyat, Sinyo, Nayla Denny Purnama, Alleyra Fakhira Kurniawan, dan Syaqila Afiffah Putri serta musisi Ardhito Pramono.

Semua cast tersebut sangat pas melakukan tugas berperan sebagai masing-masing tokoh, sepanjang film yang terkadang muncul flashback ini terasa mulus dan membuat penonton nyaman mengikuti alur cerita ini. Kalo boleh dibilang, tidak ada pemeran utama di sini, karena semua tokoh mendapat slot yang cukup untuk mendapat hati dari penonton.

Bercerita tentang sebuah keluarga, dimana sang Ayah berusaha menyembunyikan kesedihan agar keluarganya bisa selalu merasakan kebahagiaan. Adegan sehari-hari dan tidak mengada-ada membuat alur lambat yang disajikan terasa enak dan kita sebagai penonton langsung cuek terhadap popcorn yang dibeli sebagai cemilan untuk menonton film ini.

Emosi yang dibangun pun sangat perlahan, sehingga kita pun memahami tiap-tiap dialog yang terucap di film ini. Film yang cocok ditonton oleh para orang tua, anak muda, atau siapa saja... karena kita semua berasal dari lingkungan terkecil kita, keluarga.

Dua jam durasi film ini pun akan terasa kurang, karena film ini berhasil membuat emosi penonton masuk ke dalam cerita. Sebagai salah satu film terbaik di 2020, mungkin saja...menjadi film drama dengan pendapatan terbesar pun sangat mungkin.

Film ini membuat kita berinstropeksi, bahwa selalu berprasangka tanpa membicarakan adalah sesuatu yang tidak perlu dilakukan. Seberapa buruk hubungan kalian, dengan menonton film ini, akan membuat kita ingin berbicara dari hati ke hati terhadap orang yang kita sayang.

Gunakan rasa takutmu, hadapi masalahmu satu persatu. Tenang, semua akan baik-baik saja.

Sabtu, 15 September 2018

Mile 22

Daya tarik film ini bagi penonton di Indonesia adalah karena salah satu pemainnya aktor laga kebanggan kita, Iko Uawis. Dia mendapatkan peran krusial dan bersanding dengan aktor Hollywood ternama Mark Wahlberg.

Apalagi jika kita melihat poster atau signboard minimarket ternama yang menjadi salah satu sponsor film Mile 22. Bersandingnya Iko dengan Mark membuat kita bangga dan otomatis menjadi ingin menonton aksi Iko di film ini.


Bercerita tentang unit taktis yang diberi nama Overwatch yang beranggotakan James Silva (Mark Wahlberg) dan Alice (Lauren Cohan) mendapat tugas untuk mengantarkan Li Noor(Iko Uawis) dari kedubes US menuju bandara yang ditunjuk berjarak 22 mil.

Li Noor adalah seorang polisi lokal yang sedang mencari suaka, dia mempunyai informasi penting terkait Amerika Serikat dan negaranya, dan dia berjanji akan membeberkan semua jika berhasil mendapatkan suaka.

Disutradarai oleh Peter Berg, dia nampak seperti soulmate dengan Mark, karena hampir sebagian filmnya mendapatkan kesuksesan ketika Mark memperoleh peran di situ.

James Silva terlalu cerewet dan cenderung marah tanpa tujuan jelas, Alice pun seperti nanggung diberi peran lebih untuk mendapatkan emosi penonton tentang kehidupan pribadinya diluar sebagai seorang polisi, karena hanya sesaat saja kita coba dikenalkan kehancuran keluarga dia di tengah-tengah masa tugas. 
sementara Iko seolah menjadi tokoh sentral di film ini, seorang polisi lokal yang punya kemampuan beladiri melebihi pasukan elit, apalagi dengan adegan di gedung ketika berusaha melarikan diri, mungkin para penonton akan mendapatkan flashback dengan film The Raid.


Sayang sekali memang, apalagi ditambah bahwa film ini bercerita di sebuah negara di Asia Tenggara bernama Indocarr, namun banyak percakapan yang kita dengar dengan bahasa Indonesia, namun lokasinya tidak menunjukan ke-Indonesia-an sama sekali.
kita sebagai orang Indonesia yang menonton, jadi merasa asing... andai lokasi di film ini dibuat di suatu daerah di Indonesia, saya rasa bisa menutup sedikit kekecewaan kita setelah menonton film ini.

Rencana film ini akan dibuat trilogi, semoga di film kedua dan ketiganya mampu diperbaiki sehingga kita semakin bangga bahwa insan perfilman nasional sudah satu level dengan Hollywood

trailer Mile 22 

Selasa, 13 Februari 2018

The Shape of Water

Eliza adalah seorang office girl yang bekerja di sebuah laboratorium rahasia milih pemerintah Amerika Serikat di Baltimore. Dia tidak bisa bicara, alias bisu.

Hidupnya berubah ketika dia melihat makhluk misterius yang sedang diteliti di lab tersebut, merasa mempunyai koneksi yang berbeda dari makhluk yang ditemukan di Amerika Selatan tersebut, dia pun merencanakan untuk melepaskan makhluk tersebut ke alam bebas.

The Shape of Water diganjar mendapatkan 2 piala di Golden Globe Januari lalu, sebagai Best Original Score, dan Best Director yang diraih oleh Guillermo del Toro sebagai sutradara dari film ini.

dibintangi oleh Sally Hawkins sebagai Eliza Esposito, yang kita kenal sebelumnya di film Happy go Lucky (2008) yang juga meraih beberapa penghargaan bergengsi.

Menonton film ini mengingatkan saya akan film Hugo (2011), dimana film ini bertutur cerita sangat teratur dan membuat kita jatuh cinta dengan pemeran utama. sama seperti Hugo, kekhayalan tingkat tinggi di film ini akan sangat kita maklumi dan kita sangat menikmati kejadian yang seharusnya di luar logika tersebut.

The Shape of Water mencoba menceritakan bahwa cinta itu tidak memandang apapun kecuali ketulusan hati.

Menonton film ini bersama di bulan Februari, gak salah kok... toh siapa tau film ini bakalan jadi pemenang di ajang Oscar nanti.

Jumat, 12 Januari 2018

The Mountain Between Us

Entah apa yang ada di benak Any Abu-Assad selaku sutradara dan Peter Chernin selaku produser ketika memasangkan Kate Winslet dan Idris Alba sebagai pemeran utama.

sebelum saya menjawab pertanyaan itu, mungkin ada baiknya saya berikan jalan cerita dari film The Mountain Between Us.

Bercerita tentang Alex Martin (Kate Winslet), seorang photojournalist bertemu dengan dr. Ben Bass (Idris Elba) yang sama-sama terjebak di bandara karena akibat cuaca buruk, menyebabkan pesawat komersial yang mereka tumpangi tidak bisa terbang.

Alex berinisiatif mengajak Ben untuk menyewa pesawat kecil pribadi agar mereka bisa sampai ke tujuan mereka masing-masing tanpa mempedulikan cuaca buruk. Tidak disangka-sangka, pilot yang menerbangkan pesawat yang mereka tumpangi mengalami stroke pada saat menerbangi pesawat, sehingga menyebabkan pesawat itu jatuh di atas pegunungan es dan hanya mereka dan seekor anjing milik pilot yang selamat.

Cerita pun dimulai ketika mereka harus bertahan sambil menunggu berharap bantuan datang, atau terus bergerak mencari jalan keluar sendiri.

Tanpa membaca novel yg menginspirasi film ini, awalnya saya sempat berpikir ini adalah film action/drama-adventure tentang bagaimana mereka bertahan di pegunungan es, karena setengah film ini menceritakan hal tersebut, tetapi setengah film selanjutnya plot pun berubah arah menjadi romance, yang sayangnya tidak ada chemistry sedikit pun diantara mereka berdua.

Idris Elba terlihat berusaha membangun chemistry tersebut, namun sayang hal itu tidak disambut dengan performa maksimal dari Kate Winslet. Kate seolah hanya akting biasa, dibayar, lalu pulang... 

Jadi sayang sekali, nama besar kedua artis tersebut tidak bisa mengangkat film ini menjadi lebih baik.

At least, pemandangan di film ini sangat bagus...itu saja penyelamat di film ini. Semoga di film-film mendatang, semua yang teribat di film ini bisa menunjukan karya yang lebih baik

#eLmoviereview



Rabu, 10 Januari 2018

Battle of Sexes

Ada kata terakhir sebelum pertandingan Bobby?

Bobby: "Pertandingan ini untuk semua pria, dunia merasakan apa yang kurasakan. Bahwa pria adalah raja, di tingkat tertinggi"

Billie: "Aku bosan dengan omongan, ayo bermain !!"

Sesuai dengan judulnya, film ini bercerita tentang Men vs Women, dimana sekitar tahun 1970an (1972-1973 tepatnya) seorang petenis wanita kelas dunia bernama Billie Jean King (Emma Stone) merasa tidak diberlakukan adil oleh Asosiasi Tenis, karena hadiah untuk petenis wanita tidak sama dengan petenis pria, padahal penonton pun ramai menyaksikan petenis wanita.

tidak terima dengan penjelasan ketua Asosiasi Tenis yang berkesan sangat membela petenis pria, Billie mengajak semua pemain tenis wanita untuk boikot dan membuat turnamen sendiri khusus wanita.


Hal ini membuat mantan juara wimbeldon yang kebetulan seorang pria, Bobby Riggs (Steve Carrel) berinisiatif menantang Billie untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Sebenarnya dibalik film ini, terdapat pesan yang melebihi dari sekedar persamaan hak antara wanita dan pria, yang mungkin membuat film ini tidak akan tayang di bioskop di Indonesia.

Saya akan lebih suka membicarakan bagaimana kualitas akting dari 2 tokoh utama di film ini, dimana Emma Stone semenjak La La Land, jadi makin memukau kualitas aktingnya. Dan lawan mainnya pun tidak kalah tangguh yaitu seorang Steve Carrel, yang biasa kita lihat bermain di film komedi... di sini dia mampu bertransform menjadi seorang champion yang bengal atau sombong.

Walau tak dipungkiri para aktor dan aktris lain juga bermain apik di film ini (berarti Jonathan Dayton & Valerie Paris sebagai sutradara jago nih ngarahin para pemainnya). cinematography atau suasana film itu pun mendukung.

Ketika menonton film ini, apalagi pada saat puncak, kita akan merasakan ketengangan dan betap khidmat-nya sebuah pertandingan eksebisi yang dihadiri oleh ribuan penonton yang menyaksikan langsung dan betapa pentingnya sebuah komentator dan televisi sebagai pembawa opini.

Battle of Sexes, memperlihatkan kualitas akting dari para pemain itu bisa membuat film menjadi bagus dan enak ditonton

memorabe scene:
pada saat Bobby mengajak adu argumen dengan Billie di depan wartawan. Dan sesaat sebelum pertandingan, membuat kita tersenyum dan membela Billie di situ.


#eLmovireview

Rabu, 05 Oktober 2016

#moviereview: Sully

Film Sully bercerita tetang pilot asal Amerika, Chesley Sullenberger (Sully) yang tidak lama setelah lepas landas, mengenai sekawanan burung sehingga membuat mesin pesawat mati. Petugas lalu lintas udara menyarankan Sully untuk mendarat di beberapa bandara terdekat walau dalam kondisi pesawat tersebut tidak bermesin, namun Sully dengan segala pengalaman, perhitungan dan kondisi yang dia alami saat itu, memilih mendaratkan pesawat di Sungai Hudson yang sangat tidak direkomendasikan oleh siapapun.

Sully berhasil mendaratkan pesawat tersebut di air, dengan tidak ada korban jiwa sedikitpun. Di mata para penumpang dan masyarakat, Sully adalah pahlawan..namun hal tersebut tidak berlaku bagi Komisi Keselamatan transportasi, dimana dia di sidang karena menolak rekomendasi dari petugas lalu lintas udara.

Film drama namun tidak membosankan? Clint Eastwood memang jagonya. Sutradara brilian ini memang mempunyai karakter yang unik, walaupun sering bermain film aksi, dia mempunyai sentuhan magis ketika menyutradarai sebuah film yang bergenre drama yang hebatnya, sama sekali tidak membosankan bagi para penontonnya.

Saya masih ingat betul film seperti Million dollar Baby, Gran Torino, atau bahkan Invictus mampu membuat orang yang menontonnya mengingat terus film tersebut. Walaupun film-film tersebut jauh dari angka Box Office, namun dia bisa membuat filmnya menjadi salah satu film yang menyenangkan dan ditunggu oleh para penikmat film sejati.

Di film ini, Sully mengajarkan kita untuk percaya atau yakin dengan intuisi dan pengalaman, keselamatan penumpang adalah nomor satu, walaupun menurut kacamata para komite tindakan tersebut sangat tidak direkomendasikan dan Sully terancam mendapatkan sangsi. Di sini Sully ingin bercerita, bahwa jika dirimu merasa benar, bicaralah, karena walau segala pembuktian menyudutkanmu. Jalan menuju kebenaran pasti terungkap dan sistem tidak selamanya benar.

Tom Hanks bermain sebagai Sully, diperkuat oleh Aaron Eckhart yang tampil brilian sebagai co-pilot dengan kumis lebatnya… membuat film yang dibuat berdasarkan kisah nyata dan adaptasi buku yang berjudul HIGHEST DUTY: MY SEARCH FOR WHAT REALLY MATTERS sangat saya rekomendasikan untuk ditonton di bioskop yang kamu sayangi saat ini.

Trailer Sully
Tom Hanks (kiri) berperan sebagai Captain Pilot Chesley Sullenberger (Sully) dan Aaron Echart sebagai Co-Pilot Jeffrey Zaslow

Sabtu, 20 Februari 2016

#moviereview: 99 Homes

 99 Homes merupakan film yang disutradarai oleh Ramin Bahrani yang juga menulis untuk film ini bersama Amir Naderi dan Bahareh Azimi. 99 Homes dibintangi oleh beberapa aktor ternama seperti Andrew Garfield yang berperan sebagai Dennis Nash, Michael Shannon sebagai Rick Carver, dan Laura Dern sebagai Lynn Nash. Film yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan tentang Dennis, seorang ayah yang mengalami masalah dengan broker namun kemudian ia justru bekerja dengannya. Film ini masuk dalam satu nominasi Golden Globes 2016 dalam kategori Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Motion Picture.


Akhirnya saya kesampaian juga menonton film ini… film yang didasari dari kisah nyata ketika perekonomian Amerika Serikat hancur sehingga membuat hampir semua pekerja kehilangan perkerjaannya dan tidak mampu membayar rumah yang sudah mereka agunkan ke bank.

Dennis Nash adalah salah satunya, Keadaan sulit Dennis yang hanya berprofesi sebagai ahli bangunan ternyata dapat dilihat danb dimanfaatkan dengan baik oleh Rick Carver sebagai juru sita rumah yang kebetulan menyita rumah Dennis pada waktu itu, Rick meng-hire Dennis dan menjadi orang kepercayaan Rick yang ternyata mereka mendapatkan celah licik dari keadaan ekonomi waktu itu. 

Kepiawaian Dennis dan kelicikan Rick seolah-olah membuat mereka tim sempurna dalam mengumpulkan uang dari kelemahan sistem yang memang pada akhirnya menyengsarakan para nasabah yang harus kehilangan rumah yang telah disita berdasarkan hasil keputusan sidang.

Saya tidak mau berpanjang lebar mengenai kisahnya, namun yang saya perlu cermati adalah pendewasaan atau pendalaman karakter dari Andrew Garfield dari seseorang remaja yang manis di The Social Network ataupun di dua film sebelumnya sebagai remaja tengil dan juga jagoan dalam film The Amazing Spiderman menjadi seorang ayah tunggal yang tinggal bersama ibunya dan merasa harus bertanggung jawab terhadap rumah tinggalnya yang disita oleh pihak bank.

Namun kegemilangan Garfield seolah itu terdongkrak atas penampilan apik Michael Shannon sebagai Rick Carver, Michael yang akrab di mata kita lewat polisi jahat di film tentang kurir sepeda “Premium Rush” bersama Joseph Gordon-Levitt.. kali ini bermain nyaris tanpa cacat memerankan Rick Carver, seorang juru sita andalan yang mampu menjalankan tugas dalam segala kondisi tanpa ada rasa perikemanusiaan sedikit pun dengan alasan sistem/aturan yang telah ditetapkan pengadilan. Namun dari sistem tersebut dia melihat celah untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan membohongi sistem/peraturan tanpa belas kasihan. So pantaslah dia mendapatkan nominasi Golden Globe tahun 2016 sebagai Best Supporting Actor.

Ini merupakan film drama, namun drama yang penuh ketegangan dengan sedikit kekerasan yang terus memuncak karena peforma kualitas akting para pemainnya yang membuat film ini layak ditonton dan menjadi renungan kita agar berhati-hati jika mengagunkan asset property yang jadi satu-satunya milik kita.

Sangat manusiawi saya rasa, jika kita mempertahankan kebutuhan dasar dalam hidup seperti sandang, pangan, dan papan. Jika seseorang ingin merebutnya…wajar bagi kita untuk mempertahankan kebutuhan dasar tersebut dalam bentuk apapaun dan cara bagaimanapun.

Regs,

@elrivany

#moviereview: Aach..Aku Jatuh Cinta


"Bertemu kamu seperti menemukan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. 
Aku putuskan menaruh bom itu di kantungku.
Maka jika bom itu meledak dekat jantungku,
akan menjadi pijaran kembang api…yang penuh kisah cinta."


Itulah penggalan dialog puisi yang dibawakan manis oleh Pevita Pearce, yg berperan sebagai Yulia...  Seorang remaja putri yg beranjak dewasa, dengan lawan main Chicco Jericco,aktor yang sedang naik daun semenjak mendapatkan piala citra di tahun 2014, berperan sebagai Rumi...
film ini menarik untuk ditonton karena sutradara dari film ini adalah Garin Nugroho, sutradara kawakan yang mondar mandir masuk festival film ternama... menyutradarai film yang memang secara kualitas adalah film komersial, bukan film festival.
Jika Garin diberikan kesempatan menyutradarai AADC2, mungkin akan seperti Acch Aku Jatuh Cinta (AAJC) jatuhnya..
Dialog puitis mengalir dengan derasnya dan dapat dinikmati dengan senyum oleh penonton, rekor tersendiri bagi saya...mengerti dan tidak mengantuk untuk menonton film2 karyanya Garin sebelumnya.
Filmnya sendiri begitu renyah, berdasarkan kisah percintaan Romeo dan Juliet... Dimana perjalanan cinta mereka selalu terbentur dan terhalang oleh sesuatu.. Cerita karya Shakespeare yang tidak habis dimakan waktu walau ribuan kali dikisahkan melalui fragment, pertunjukan drama teater, bahkan film dengan berbagai alih Bahasa dan saduran.
Jika kisah cinta asli Romeo dan Juliet dihalangi oleh keluarga dan budaya... Tidak dengan film ini, dimana kisah cinta Rumi dan Yulia dihalangi oleh ketakutan hati mereka masing2 jikalau mereka saling menyatakan cinta.
Filmnya sendiri berlatar tahun 70-90an, dimana pada masa tersebut memang sangat menarik untuk difilmkan, karena pada masa itu adalah masa2 penuh bunga, warna mencolok, baju polkadot, dan musik-musik rock n roll. Serta masalah perekonomian yg menjadi latarnya seolah pas menjadi film cinta yang penuh gejolak dan warna.
Garin secara halus memasukan kegelisahan rakyat Indonesia atas berbagai kebijakan ekonomi yg diambil pemerintah saat itu yg berimplikasi ke kehidupan sosial mereka.
Walaupun banyak keganjilan dan atau missing link antar scene...tidak membuat film ini lantas menjadi membosankan.. justru kekuatan skenario yang membuat semua hal kelemahan dalam film tersebut jadi tidak terlihat, namun walaupun bisa kita rasakan.
Walaupun sebenarnya Chicco sudah tidak pantas berdandan sekolah menengah atas, namun transformasi kedua bintang tersebut patut diacungi jempol, seperti yang saya sebutkan di atas..bahwa film ini berjalan di masa tahun 70an sampai awal 90an. Selain itu, original soundtrack film ini sangat pas dan nyantol bagi para penonton… siapa yang tak terkesima mendengar lantunan lagu “Dari Mana Datangnya Asmara” Hendri Lotinsulu. Dan masih banyak lagi, lagu2 yang buat kita tersenyum dan tentu saja…bernyanyi melantunkan sountracknya.
Oh iya, menariknya lagi…konsistensi film ini terlihat dari bagaimana setiap benda/adegan ini mempunyai makna sampai akhir film… jika ada yang sudah menonton, pasti tahu bahwa bra merah adalah kunci dari film ini J
+M.Rizki Elrivany
#timpevitapearce