Ternyata ini berisi cerita satir kehidupan seorang pemuda yang hidup di Jakarta bernama Ale, seorang diri, merasa diabaikan teman kantor, tetangga, bahkan ibunya, dan berniat mengakhiri hidupnya sesaat ulang tahunnya ke tigapuluh tujuh (37 Tahun).
Sang penulis Brian Khrisna, menurut saya berhasil menyajikan kisah mendalam namun dengan sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan kita.
Gaya penulisan yang menurut saya cukup jenaka dan sedikit vulgar, namun bisa diterima dan menjadi suatu kewajaran katika kita membaca novel ini.
Ale merencanakan ingin bunuh diri dengan cara meminum obat melebihi dosis, semua plan sudah dikerjakan, dan ketika ingin menelan obat tersebut, dia melihat tulisan bahwa obat itu boleh diminum setelah makan, nah dari situlah Ale ingin makan mie ayam favoritnya sebelum menghabiskan nyawanya sendiri.
Dari pencarian mie ayam favoritnya itulah konflik-konflik mulai terjadi, mulai dia akhirnya masuk penjara, menjadi gangster, bahkan dinasehati oleh orang buta di pinggir jalan.
Dari novel ini membuat kita tersadar, bahwa kunci untuk bertahan hdup itu bukanlah selalu berfikir positif, tetapi kemampuan kita untuk menerima. Menerima jika tidak berjalan dengan baik dan lancar.
"Hidup itu seperti paradoks. Untuk bisa sembuh, kamu harus merasakan sakit dulu. Untuk bisa mengenal perdamaian, kamu harus berperang dulu. Untuk bisa mengenal apa itu bahagia, kamu harus pernah sedih dulu. Untuk bisa bangkit melawan, kamu harus jatuh kalah dulu."
Kutipan tersebut benar adanya dan ketika selesai membaca novel ini membuat saya secara pribadi lebih semangat dan menilai, apa yang menjadi asumsi, tidak perlu digubris.
Quotes kesukaan saya: "Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa."
Menarik kan? novel ini bisa kamu beli di Toko buku Gramedia terdekat atau pesan online di marketplace.
