Selasa, 01 Juli 2025

F1 The Movie (Review Film)

 F1: The Movie menggabungkan sutradara Joseph Kosinski dengan superstar Brad Pitt dalam sajian pengalaman fiksi balapan F1 yang mendebarkan.

Sonny Hayes (Pitt) adalah seorang pembalap senior yang pensiun dari F1 karena kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawanya, hidupnya saat ini sebagai pembalap cabutan mulai dari NasCAr, Daytona, bahkan sampai supir taksi.


Dia didatangi sahabat lamanya, Ruben (Bardem) yang sudah menjadi pemilik team F1. namun kondisi team Ruben belum mendapatkan point sama sekali dan mencari pembalap kedua untuk mendampingi pembalap utamanya seorang rookie bernama Joshua Pearce/JP (Idris).

Tugas utama Hayes adalah menyelamatkan Ruben dengan cara mendapatkan poin dari dari sisa balapan di pertengahan musim.

Film yang di produseri oleh Brad Pitt, Toto Wolf, bahkan Lewis Hamilton tentu saja membuat film ini terasa mewah dan mendekati real. Terlebih disutradari oleh Joseph Kosinski yang sukses di film Top Gun: Maverick.



Banyaknya cameo para pembalap F1 asli dan beberapa track serta kantor Ruben yang aslinya adalah akntor dari Mc  Laren di Inggris, membuat penggemar F1 seperti saya melonjak kegirangan.



Pengambilan gambar di mobil menggunakan kamera iphone juga menunjukan keseruan dan keikutsertaan kita mengemudi dalam kecepatan 300km/jam lebih.

Untuk segi cerita, format pembalap lama datang sebagai pahlawan untuk mengangkat team balap sepertinya usang dan sudah digunakan beberapa kali di film dengan team balapan.

Kelebihan utamanya adalah bahwa boleh dibilang semua team F1 dan pembalap asli setidaknya ikut bermain bahkan sampai berdialog, sehingga tensi ketegangan begitu nayat seperti F1 reality.

Tonton film ini di bioskop kategori IMAX, pasti kamu akan merasakan adrenalin dan begitu sebentarnya film ini berlalu, dan tidak tersadar sudah 2 jam lebih.

Senin, 30 Juni 2025

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Novel Fiksi)


Sebagai penggemar mie ayam, judul novel fiksi ini menarik dan membuat saya tertarik untuk membeli novel ini. 

Ternyata ini berisi cerita satir kehidupan seorang pemuda yang hidup di Jakarta bernama Ale, seorang diri, merasa diabaikan teman kantor, tetangga, bahkan ibunya, dan berniat mengakhiri hidupnya sesaat ulang tahunnya ke tigapuluh tujuh (37 Tahun).

Sang penulis Brian Khrisna, menurut saya berhasil menyajikan kisah mendalam namun dengan sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan kita.

Gaya penulisan yang menurut saya cukup jenaka dan sedikit vulgar, namun bisa diterima dan menjadi suatu kewajaran katika kita membaca novel ini.

Ale merencanakan ingin bunuh diri dengan cara meminum obat melebihi dosis, semua plan sudah dikerjakan, dan ketika ingin menelan obat tersebut, dia melihat tulisan bahwa obat itu boleh diminum setelah makan, nah dari situlah Ale ingin makan mie ayam favoritnya sebelum menghabiskan nyawanya sendiri.

Dari pencarian mie ayam favoritnya itulah konflik-konflik mulai terjadi, mulai dia akhirnya masuk penjara, menjadi gangster, bahkan dinasehati oleh orang buta di pinggir jalan.

Dari novel ini membuat kita tersadar, bahwa kunci untuk bertahan hdup itu bukanlah selalu berfikir positif, tetapi kemampuan kita untuk menerima. Menerima jika tidak berjalan dengan baik dan lancar.

"Hidup itu seperti paradoks. Untuk bisa sembuh, kamu harus merasakan sakit dulu. Untuk bisa mengenal perdamaian, kamu harus berperang dulu. Untuk bisa mengenal apa itu bahagia, kamu harus pernah sedih dulu. Untuk bisa bangkit melawan, kamu harus jatuh kalah dulu." 

Kutipan tersebut benar adanya dan ketika selesai membaca novel ini membuat saya secara pribadi lebih semangat dan menilai, apa yang menjadi asumsi, tidak perlu digubris.

Quotes kesukaan saya: "Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa."

Menarik kan? novel ini bisa kamu beli di Toko buku Gramedia terdekat atau pesan online di marketplace.